Satu orang utan Tapanuli ditemukan mati akibat bencana longsor

Hutafiles.org. Satu individu orang utan Tapanuli (Pongotapanuliensis) ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa atau mati di Pulo Pakkat, Kecamatan Sukabangun, Tapanuli Tengah, pekan ini.

Satwa liar terancam punah itu ditemukan dalam kondisi terjepit oleh kayu-kayu akibat banjir dan longsor yang menerjang sejumlah kawasan di Tapanuli Raya meliputi Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara.

Penggiat konservasi telah mengonfirmasi penemuan bangkai orang utan yang terkubur di bawah lumpur kayu gelondongan pada 3 Desember lalu oleh seorang relawan.

“Ketika pertama kali melihat saya tidak yakin itu apa karena agak rusak. Mungkin karena terkubur di bawah lumpur dan kayu gelondongan,” kata Dicky Chandra, relawan yang menemukan bangkai orang utan itu, seperti dilaporkan BBC, Jumat (12/12/2025).

Penggiat konservasi dan kelestarian orang utan, Panut Hadisiswoyo, mengonfirmasi kebenaran peristiwa itu. Dia katakan, orang utan itu dalam kondisi luka akibat terseret air bah dan longsor dan tubuhnya mengalami pembusukan, diperkirakan selama lima hingga sepuluh hari.

Banjir dan longsor pada November lalu juga telah berdampak pada habitat orang utan Tapanuli di bagian blok barat.

Friska Hutasoit, seorang penggiat konservasi dari Yayasan Ekosistem Lestari di Tapanuli Tengah mengatakan, pihaknya masih berupaya mencari tahu dampak yang terjadi dengan habitat orang utan Tapanuli di wilayah itu karena masih terkendala medan dan akses yang masih sulit dilalui karena dampak bencana.

“Nggak ada akses mau cek ke lokasi,” katanya dikonfirmasi Hutafiles.org, pekan lalu.

Para penggiat konservasi telah lama memperingatkan potensi ancaman yang dapat terjadi akibat eksplorasi di kawasan hutan Batang Toru, selain dampak bencana banjir dan longsor juga ancaman punahnya orang utan Tapanuli, sebagai penyangga ekosistem hutan.

Kelompok advokasi lingkungan, Mighty Earth, telah memperingatkan dampak bencana oleh operasional proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru yang dioperasikan PT North Sumatera Hydro Energy dan tambang emas Martabe yang dioperasikan PT Agincourt Resources.

Direktur Senior di Mighty Earth, Amanda Hurowitz, menyayangkan dampak kerusakan yang terjadi akibat siklon Senyar di Batang Toru, antara lain ribuan hektar hutan yang rusak dan mengancam kehidupan yang bergantung padanya, baik masyarakat maupun orang utan Tapanuli yang terancam punah yang menjadikan daerah ini sebagai rumah mereka.

“Proyek apa pun, baik pertambangan, pembangkit listrik tenaga air, atau pertanian perkebunan, perlu ditunda sementara rencana komprehensif disusun untuk melindungi ekosistem ini serta masyarakat dan satwa liar yang tinggal di sana,” ungkapnya dalam keterangan tertulis pekan ini.