MBG di Sumut: 304 orang keracunan, 252 dapur dihentikan

Pembagian MBG di sekolah. Foto: BGN


Hutafiles.org, Medan
— Sejak pertama kali diluncurkan pada Januari 2025, program nasional makan bergizi gratis (MBG) telah menjadi sorotan, terutama karena peristiwa keracunan makanan yang terjadi pada siswa-siswi yang mengkonsumsinya.

Di Sumatera Utara, uji coba MBG dimulai pada Januari 2025. Pemerintah Provinsi Sumut menargetkan 1.762 SPPG. Hingga September 2025, anggaran yang telah dialokasikan sebesar Rp1,26 triliun untuk 771.416 penerima.

Menurut Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Sumut, Nofiansyah, jumlah itu masih jauh dari target 3,7 juta penerima.

Program MBG di Sumut tercatat dengan kejadian keracunan yang telah terjadi di Kabupaten Dairi dan Toba. Terkini, satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di Kabupaten Serdang Bedagai ditutup setelah ditemukan ulat pada menu MBG.

Pemerintah Provinsi Sumut mencatat, di provinsi itu Badan Gizi Nasional memberikan MBG kepada 930.000 orang yang dilayani 322 SPPG.

252 Dapur SPPG di Sumut Dihentikan

Koordinator BGN Regional Sumut Agung Kurniawan mengatakan kepada media, Senin, 9 Maret 2026, 252 dapur dapur SPPG di Sumut ditutup karena belum mendaftar sertifikat laik higiene (SLHS) dan/atau belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Penghentian itu berlaku hingga SPPG tersebut telah memenuhi persyaratan.

“Untuk waktunya masih tentatif, sampai mereka memenuhi syaratnya,” kata Kurniawan seperti diberitakan Detik.

Dapur SPPG yang dihentikan sementara itu berada di 29 kabupaten, antara lain:

1. Asahan 18 SPPG
2. Batu Bara 5 SPPG
3. Dairi 11 SPPG
4. Deli Serdang 56 SPPG
5. Humbang Hasundutan 5 SPPG
6. Karo 8 SPPG
7. Kota Binjai 1 SPPG
8. Kota Gunungsitoli 2 SPPG
9. Kota Medan 31 SPPG
10. Kota Padangsidimpuan 1 SPPG
11. Kota Pematangsiantar 4 SPPG
12. Kota Tebing Tinggi 9 SPPG
13. Labuhanbatu 5 SPPG
14. Labuhanbatu Selatan 4 SPPG
15. Labuhanbatu Utara 3 SPPG
16. Langkat 20 SPPG
17. Mandailing Natal 6 SPPG
18. Nias 1 SPPG
19. Nias Barat 6 SPPG
20. Nias Selatan 2 SPPG
21. Nias Utara 1 SPPG
22. Padang Lawas 4 SPPG
23. Samosir 4 SPPG
24. Serdang Bedagai 14 SPPG
25. Simalungun 3 SPPG
26. Tapanuli Selatan 5 SPPG
27. Tapanuli Tengah 8 SPPG
28. Tapanuli Utara 6 SPPG
29. Toba 9 SPPG

14 Dapur SPPG di Sergai Ditutup 

Pasca penemuan cacing dan ulat dalam menu MBG di SMKN 1 Sergai, BGN menutup SPPG di kabupaten itu. Penutupan itu mengacu pada surat BGN Nomor 769/D.TWS/03/2026 tertanggal 8 Maret 2026 tentang pemberhentian operasional sementara dapur SPPG.

Koordinator Wilayah BGN Sergai, Nurhasanah Ritonga, seperti diberitakan Mistar, mengatakan, dapur SPPG itu dihentikan karena belum mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sergai dan/atau belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL).

Cacing dan Ulat Ditemukan di Menu MBG di Sergai

Cacing hidup ditemukan dalam menu nasi MBG di SMKN Serdang Bedagai (Sergai) pada Januari 2026 lalu. Temuan ini viral dan media sosial dan dibenarkan Wakil Kepala Sekolah SMKN 1 Sei Rampah, Yunita Elmira, pada Februari 2026.

Beberapa hari kemudian, ulat mati ditemukan pada menu MBG yang dibagikan kepada para pelajar di sekolah yang sama. Temuan ini juga viral melalui rekaman yang menunjukkan menu MBG yang dikembalikan siswa kepada pihak sekolah.

Menu MBG ke SMKN 1 Sei Rampah disediakan oleh SPPG Yayasan Bintang Ceria. Kepala SPPG Sei Rampah, Rico Hartono Hutagaoul, membenarkan kedua temuan itu.

“Kami berkomitmen untuk melakukan evaluasi dan perbaikan,” kata Hartono, seperti dikutip Waspada.

Keracunan MBG di Dairi

Sebanyak 218 siswa-siswi SMK HKBP dan SMK Arina, Sidikalang mengalami keracunan MBG pada 9 Februari 2016. SPPG yang menyediakan MBG bermasalah itu ditutup pasca keracunan itu.

Siswa mengalami diare setelah mengkonsumsi MBG terdiri dari nasi, ayam gulai, pisang, sayur selada. Karena nasinya beraroma basi dan berlendir, sebagian siswa tidak mengkonsumsinya. Namun, sebagian tetap mengkonsumsinya.

Dinas Kesehatan Sumatera Utara mengonfirmasi bahwa terdapat kandungan mikrobiologi dalam menu MBG yang diberikan kepada siswa-siswi di dua sekolah tersebut.

Keracunan MBG di Kabupaten Toba

Keracunan MBG di Kabupaten Toba terjadi di SMPN 1 Laguboti pada 15 Oktober 2025. 96 pelajar keracunan MBG yang disediakan SPPG Pardomuan Nauli Laguboti. Mereka mual, muntah, pusing dan merasa nyeri pada ulu hati setelah menyantap menu MBG yang terdiri dari ikan mujair asam manis tempe, sayur pokcoy dan buah semangka.

Berdasarkan pemeriksaan di laboratorium, buah semangka dalam menu MBG tersebut sudah berlendir.

Hasil pengujian Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Sumut menemukan terdapat kandungan bakteri berlebih pada menu makanan tersebut. Ditemukan dua bakteri di dalamnya, yakni Bacillus Cereus dan Staphylococcus Aureus.

Keracunan Berulang

Pasca peristiwa keracunan MBG di Laguboti, Toba, Pemprovsu memastikan agar keracunan tidak terulang lagi.

“Kami terus memastikan agar penanganan anak-anak sekolah  yang terdampak berjalan optimal,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut, Faisal Hasrimy, pasca kejadian keracunan MBG di Toba, seperti dikutip dari laman Diskominfo Sumut. 

Total keracunan di Dairi dan Toba berjumlah 304 orang.

Untuk mencegah kejadian serupa, kata Faisal, semua SPPG wajib memiliki SLHS dan menjamin kebersihan pangan, alat masak dan wadah saji, juga memastikan pendistribusiannya tepat waktu.

Faktanya, peristiwa keracunan MBG terjadi lagi di Dairi, bahkan di daerah lain yang tidak terekspos ke publik.

Keracunan terulang dinilai karena fungsi pengawasan yang lemah. Pengawasan seharusnya tidak sebatas formalitas, kata Ketua Fraksi PKB DPRD Sumut, Zeira Salim Ritonga.

“Orang-orang yang ada di BGN itu, yang ahli gizi dan pengawas itu jangan hanya sekadar untuk formalitas,” ujarnya seperti dikutip iNews, Rabu, 11 Februari 2026.